Panduan Member APEPI

Iklan









Panduan Member APEPI

Perbedaan PPH Karyawan, Profesional, Pengusaha dan Investor



macam pph karyawan profesional pengusaha investor

Pajak Penghasilan Karyawan, Profesional, Pengusaha dan Investor

Sebagaimana kita ketahui begitu banyaknya jenis pekerjaan di dalam kehidupan sehari-hari ini. Banyak yang bekerja sebagai karyawan negeri maupun swasta, ada juga yang bekerja sebagai profesional seperti dokter, notaris, petugas dinas asuransi dan lainnya. Selain itu ada juga yang memilih untuk menjadi pengusaha baik yang memulai usahanya dari kecil maupun meneruskan usaha dari orangtuanya. Apapun jenis pekerjaan yang dimiliki seseorang namun mereka tetap berkewajiban untuk membayar pajak atas penghasilannya. 

Bulan

Peredaran bruto (Rp)

PPH terutang (Rp)

Januari

20.000.000

200.000

 

Februari

20.000.000

200.000

 

Maret

20.000.000

200.000

 

April

20.000.000

200.000

 

Mei

20.000.000

200.000

 

Juni

20.000.000

200.000

 

Juli

20.000.000

200.000

 

Agustus

20.000.000

200.000

 

September

20.000.000

200.000

 

Oktober

20.000.000

200.000

 

November

20.000.000

200.000

 

Desember

20.000.000

200.000

 

Total

240.000.000

2.400.000

 
           

Lalu diantara karyawan, pengusaha, profesional maupun investor siapa yang memiliki pajak penghasilan paling besar? Jika ingin membandingkan pekerjaan mana yang membayar pajak penghasilan paling besar tentu saja sulit, dikarenakan pembanding dirasa tidak sepadan. 

Besarnya pajak penghasilan atas suatu pekerjaan itu berbeda-beda tergantung dari apa pekerjaannya, berapa besarnya penghasilan yang didapat maupun bonus dan lain sebagainya ataupun tanggungan yang dimiliki oleh masing-masing dari orang tersebut. 

Besarnya pajak penghasilan antara karyawan, pengusaha (belum PKP) dan profesional namun dengan kriteria dan pembanding yang sama :

Contoh:

  1. Pria sudah menikah, memiliki istri yang hanya menjadi ibu rumah tangga dan memiliki 2 orang anak yang masih duduk di sekolah dasar.
  2. Penghasilan bruto yang dimiliki adalah Rp 240 juta per tahun atau Rp 20 juta per bulan baik bagi karyawan (diasumsikan pegawai swasta), pengusaha (diasumsikan memiliki usaha kecil yaitu dagang mainan anak-anak dan non PKP) maupun profesional (diasumsikan bekerja sebagai arsitek).
  3. Untuk karyawan diasumsikan tidak memiliki thr maupun bonus apapun, hanya memiliki penghasilan dari gaji saja.
  4. PTKP untuk k/2 = Rp 67.500.000

 

Dari asumsi diatas, mari kita hitung pajak penghasilan atas pekerjaan yang mana yang paling besar jika masing-masing dari mereka memiliki penghasilan dan tanggungan yang sama. 

     1. Karyawan swasta

  • Penghasilan setahun = Rp 20.000.00 x 12 bulan = Rp 240.000.000
  • Biaya jabatan = (5% x Rp 240.000.000) = Rp 6.000.000 (batas paling besar biaya jabatan)
  • Penghasilan netto = Rp 240.000.000 – Rp 6.000.000 = Rp 234.000.000
  • PTKP (istri tidak bekerja dan 2 anak) = Rp 67.500.000
  • Penghasilan untuk perhitungan pajak = Rp 234.000.000 – Rp 67.500.000 = Rp 166.500.000

PPH pasal 21:

= Rp 50.000.000 x 5% + (Rp 166.500.000 – Rp 50.000.000) x 15%

= Rp 2.500.000 + Rp 17.475.000

= Rp 19.975.000 per tahun atau Rp 1.664.000 per bulan

Pajak penghasilan atas pekerjaan sebagai karyawan dengan penghasilan Rp240 juta setahun serta memiliki istri tidak bekerja dan memiliki tanggungan 2 anak adalah sebesar Rp19.975.000 per tahun atau Rp1.664.000 per bulan. Biasanya pajak tersebut sudah dipotong oleh perusahaan dengan bukti diberikannya a-1/a-2. Pada kasus seperti ini, di akhir tahun pelaporan, jika karyawan tersebut hanya mendapatkan penghasilan dari tempat kerjanya saja dan tidak memiliki penghasilan lainnya, maka pada SPT tahunan karyawan ini adalah nihil (tidak usah membayar PPH lagi, karena sudah dibayarkan setiap bulannya oleh perusahaan, biasanya dipotong dari gaji). 

 

     2. Pengusaha (usaha jual mainan anak-anak)

Pajak atas penghasilan sebagai pengusaha (non PKP) maka Rp 2.400.000 per tahun atau bisa dibilang pengusaha yang usahanya belum PKP itu membayar pajak dengan tarif PPH final 1% setiap bulannya dari peredaran bruto usahanya tersebut. 

 

     3. Profesional (arsitek)

Perhitungan pajak penghasilan untuk pekerjaan sebagai profesional (pekerjaan bebas) dilakukan berdasarkan norma yang sudah ditetapkan. Sebagai contoh adalah arsitek yang memakai norma dengan tarif 47%.

  • Penghasilan bruto = Rp 240.000.000
  • Tarif norma = 47%
  • Penghasilan netto = Rp 240.000.000 x 47% = Rp 112.800.000
  • PTKP (k/2) = Rp 67.500.000
  • Penghasilan kena pajak (PKP) = Rp 112.800.000 – Rp 67.500.000 = Rp 45.300.000
  • PPH terutang = Rp 45.300.000 x 5% = Rp 2.265.000

Jika ada angsuran PPH 25 tiap bulannya (dari masa pajak sebelumnya) menjadi pengurang untuk PPH terutang. Pajak yang harus dibayar oleh arsitek ini adalah sebesar Rp2.265.000 di bulan maret, pada saat mau pelaporan SPT tahunan. Untuk angsuran PPH 25 per bulannya adalah sebesar Rp188.750 (didapat dari Rp2.265.000 dibagi 12 bulan), dibayarkan sejak masa SPT tahunan. 

 

     4. Investor

Kita ambil contoh investor saham. Keuntungan dari investasi saham itu tidak dikenakan pajak, dikarenakan penghasilan dari investasi saham itu bukan merupakan penghasilan melainkan hasil investasi.

Jika awal mula seorang investor menyetorkan jumlah uang Rp200 juta untuk investasi dan diakhir tahun nilai akhir investasinya sebesar Rp 225 juta maka keuntungannya sebesar Rp 25 juta itu bukan merupakan penghasilan, namun kita masukan saja saham akhir tahun yang kita miliki sebagai aset kita di SPT tahunan yang kita laporkan.

Sebagai seorang investor saham (pada perusahaan) kita dianggap sebagai pemilik dari perusahaan (yang kita beli sahamnya), sehingga ketika mendapatkan penghasilan atas kenaikan sahamnya itu kita sudah mendapatkannya secara bersih (nett) dan sudah dipotong pajak oleh perusahaan sehingga kita sudah tidak perlu membayar pajak lagi.

Namun dari itu, sebagai “investor saham” kita dikenakan 2 pajak tambahan sekaligus diluar PPH (yang sudah dibayarkan perusahaan) yaitu pajak penjualan dan pajak atas dividen.



Dokumen :






Iklan
  • 2643 title=
  • 2643 title=
  • 2643 title=
Iklan
  • 2643
  • 2643
  • 2643